Jumat, November 07, 2008

PENGALAMAN BATHIN DI TANAH SUCI








Assalamaulaikaum Wr.Wb.

Subhanallah !!!
Ini pengalaman bathin saya yang tak dapat saya lupakan selama hidup saya. Dimana saya mendapatkan hikmah dari itu. Bila Allah tidak mengijinkan, apapun usaha kita tidak akan berhasil. Tetapi, bila Allah mengijinkan, segalanya dibuat mudah oleh Allah. Jadi kita harus menyerahkan diri kepada Allah memohon ridhonya agar apa yang kita usahakan mendapat Ridho Nya, dimudahkan jalannya.

Sewaktu saya melaksanakan ibadah haji yang merupakan rukun Islam yang ke 5 pada akhir tahun 2005 s/d 2006, saya pertama berada di Madinah karena mengambil haji tammatu yang artinya umroh dulu baru haji. Di Madinah kami menyelesaikan arbain dahulu selama kurang lebih 8 hari melaksanakan sholat wajib selama 40 hari di mesjid Nabawi, masjid yang paling indah dunia. Di dalammnya terdapat makam Rasullulah bersama kedua sahabatnya Abu Bakar & Umar bin Khatab. Diantara makam Rasullulah dan mimbar dinamakan Raudhah (taman surga). Dan akhirnya semuanya oleh orang umumnya dinamakan Raudhah.

Pengalam saya tentang Raudhah itu adalah sewaktu kami akan masuk Raudhah, dimana untuk jama’ah wanita ditentukan waktunya yaitu jam 8 pagi sesudah dhuha, sesudah ashar. Oleh karena itu banyak sekali jama’ah yang berebut antri untuk masuk. Suasananya Masya’Allah seperti mau perang, ramai sekali, apalagi jam’ah wanita yang dari negara seperti nigeria, pakistan, turki histeris sekali. Kami bercampur baur disitu bersama orang-orang yang besar2. Bayangkan saja kita-kita orang asia yang rata-rata berbadann kecil diantara orang-orang yang besar-besar. Tidak bisa dibayangkan bila mulai bergerak bisa hancur kita. Karena mereka orangnya kuat-kuat dan kasar-kasar, segala cara mereka lakukan untuk mencapai Habluminaullah tanpa memperhatikan Habluminannas. Hal itu terbukti, sewaktu pinto Raudhah dibuka mereka langsung menyerbu seperti angin ribut, bahkan kadang bisa ada yang terjatuh. Jadi kasih sayang yang Rasulllah ajarkan hilang.

Itu saya alami sewaktu antri bersama Yasmin teman saya, kami berada dekat tiang, tidak lama kemudian kami bertemu dengan seorang ibu tua jama’ah dr Kalimantan. Kami meminta ibu itu duduk berlindung di tiang karena menjaga agar beliau tidak tertabrak orang-orang yang menyerbu bila pintu Raudhah dibuka. Ternyata terbukti, begitu pintu dibuka dengan ramainya mereka berlari menyerbu sperti angin ribu rasanya, nah tadinya sya sudah mau ikut masuk, tinggal sutu langkah saja, tiba-tiba sya menghadapi dilema antara pribadi atau kemanusiaan, padahal kami paling depan lho. Tapi kami melihat si ibu, bila ditinggal besar kemungkinan beliau akan terkena serangan orang-orang menyerbu masuk Raudhah. Jadi kami tidak jadi masuk, tetap di pilar melindungi si ibu dari serangan mereka yang seperti angin ribut & masya’Allah saya sampai ditabrak mereka, kami berpegang erat pada tiang sambil melindungi si ibu. Masya’Asllah sampai Alqur’an pada jatuh. Dideapan pintu kami menyaksikan orang-orang yang jatuh, jungkir balik bahkan ada yang pingsan, benar-benar dahsyat. Akhirnya kami memutuskan tidak jadi masuk. Saya berkata pada Yasmin, mungkin Allah belum mengijinkannya. Padahal pengen banget lho, karena disana kita bisa berziarah kemakam Nabi dan sholat disana.

Pada hari selanjutnya kami mencoba lagi dan tidak berhasil, bahkan tas saya dan tas Yasmin hilang sewaktu kami tinggalkan ke raudhah. Itu merupakan peringatan juga dari Allah bahwa kami belum diizinkan. Dan kami tetap bersabar, sampai saya sholat taubah mohon ampun atas semua kesalahan saya, memohon pada Allah SWT agar ini merupakan cobaan saya yang terakhir.










Tapi rupanya Allah berkehendak lain, Allah memang maha pengasih dan penyayang bagi umatnya yang sabar.
Pada malam terakhir, sehari sebelum kami berangkat ke Makah, sehabis Ashar kami iseng-iseng jalan menengok ke pintu Raudhah. Tadinya saya tidak mau tapi ibu Muslim, salah satu teman saya yang baik mendorong saya agar mau itu. Dan Alhmadulillah, Subhanallah, sewaktu kami menengok ke pintu masuk Raudhah, pintu itu terbuka, sepi, dan kami disuruh masuk oleh Askhar. Dan didalam juga tidak begitu banyak orang. Antri sih tapi tidak seramai biasanya. Jadi saya bisa dengan leluasa sholat persis didepan makam Nabi dengan dijaga ashkar, kemudian mundur, begitu melihat tempat kosong saya kembali sohat 2 raka’at lagi sampai tiga kali.

Allah benar benar Maha Pengasih & Penyayang. Seandainya kami jadi masuk sewaktu lagi ramai-ramainya, bukan tidak mungkin kami juga bisa ikut jadi korban.
Terima Kasih ya Allah. Juga untuk ibu Muslim yang sudah saya anggap ibu sendiri yang selalu mendorong saya, memberi semangat pada saya selama bersama-sama ditanah suci ini.

Sewaktu di Makah, banyak sekali pengalaman yang menakjubkan. Sewaktu Arrafah, Mina ketika melaksanakan haji.
Pengalaman di Arafah benar-benar hal pribadi jadi sulit untuk diungkapkan yang pasti seakan-akan Allah dekat sekali dan semua dosa masa lalu diampuni, serasa Allah mendengar permintaan kita dan menjajikan akan mewujudkannya serta langit dekat sekali dan cerah sekali. Dan Alhamdulillah semuanya dapat saya jalankan dengan lancar tanpa halangan sedikitpun. Malah segalanya menyenangkan dengan teman-teman yang baik layaknya saudara.

Pengalaman seperti di Masjid Nabawi terulang lagi di Masjidil Haram. Sewaktu kami tawaf sulit sekali mendekati pintu Ka’abah, Hajar Aswat & Hijir Ismail. Setipa kami mendekati. Serasa terlempar kembali, banyak sekali orang. Subhanallah, umat Islam seluruh dunia berkumpul jadi satu. Maha Besar Allah dapat mengumpulkan umat-Nya dengan berbagai ragamnya.

Kalau dengan makam Ibrahim tidak begitu sulit sih, bisa menyentuhnya walaupun tidak dapat sholat persis di depannya. Paling tidak tepat digaris belakangnya walau jauh, banyak orang yang tawaf.
Sewaktu sedang tawaf ifadha, saya berdua teman saya Dija khan kita sama-sama sedang sakit tapi niat tawaf, kami saling menguatkan. Untuk menguatkan diri saya melantunkan pujian-pujian kepada Allah SWT : Subhanallah Walhamdulillah Walailahailallah Allahu’Akbar. Dengan dilagukan, dan tiba-tiba saya bersebelahan dengan seorang arab atau bangsa apa itu, seorang kakek2 badannya kecil memakai tongkat, buta yang kemudian memegang kepala saya dengan tersenyum dan menepuk-nepuk kepala saya seolah memuji. Apa dia senang mendengan suara saya ya. Setelah itu saya tidak bertemu beliau lagi. Tapi itu mengutakan saya. Alhamdilillah.

Sewaktu saya & Yasmin tawaf, kami sampai di Hijir Ismail, tapi sayang sedang dibersihkan, jadi kami hanya bisa memohon dibalik temboknya. Akhirmya kami berdua memohon kepada Allah agar kami dapat mencapai salah satu dari tiga tempat tersebut yaitu Hijir Ismail, Multazam & Hajar Aswat.

Dua hari sebelum kami pulang ke tanah air, Alhamdulillah Allah memenuhi permohonan kami. Malam jam 11 an kami bertiga : Saya, Yasmin & Ayub (suami Yasmin) tawaf & Alhamdulillah kami dapat sholat di dalam Hijir Ismail, walaupun dengan penjagaan karena penuhnya & sesudah itu kami bisa menyentuh Multazam. Cuma Hajar awat sulit karena banyaknya orang disana, hampir sih tapi, tenaga kami sudah habis. Biar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan akhirnya kita menyingkir, karena banyaknya orang. Terus kami sholat sunah dan sujut syukur. Saya agak menyesal juga kenapa tidak dapat ke Hajar Aswat, tapi kata Yasmin, kalau kita memohon tiga permintaan tetapi Allah mengabulkan dua permohonan itu sudah bagus, daripada tidak sama sekali. Benar juga ya. Semoga ibadah dan hajat saya selama ini dikabulkan allah dan menjadi hajah yang mabrur. Amin

Sedikit pengalaman saya ini saya tuturkan adalah ungkapan hati saya yang paling dalam bagaimana saya benar-benar mendapatkan pengalaman rohani yang besar sekali yang menjadi pegangan hidup saya selanjutnya yaitu menjalani hidup dengan sabar dan iklhas karena Allah mencintai hamba-Nya yang sabar dan ikhlas. Allah tidak akan memberi cobaan yang lebih berat dari kemampuan umatnya.

« Sungguh luar biasa seorang mukmin itu. Seluruh perkara dalam hidupnya bernilai positif. Apabila ia mendapat kemudahan, maka ia bersyukur. Apabila ia ditimpa kesulitan, maka ia bersabar. »
Semoga pengalaman saya ini bermanfaat bagi kita semua.

Wassalam,

Dewi Kristianti P.’84


1 komentar:

Perjalanan Hajiku mengatakan...

Saya senang dengan blog ini. Saya seorang alumni SMA 1 Panyabungan. Saya juga telah menerbitkan buku pengalaman haji yang sangat membantu buat para calon jemaah haji Indonesia.
Judul: 40 Hari Di Tanah Suci.
Bisa didapatkan di:
Kota Medan: Toko Buku Sembilan Wali, Populer, Obor Muda.
Kota Padang: T. Buku Sari Anggrek, Takdir
Bukit Tinggi: TB Irama, Utama, Seroja, Sari Anggrek
P. Sidempuan: TB Krakatau
Panyabungan: TB Ropikoh, Hijrah, Calista, Ashar Tanjung.
Bagi yang bertempat tinggal di selain kota yang tertulis di atas, bisa memperolehnya melalui
www.mandailingnatal.page.tl
(Situs Buku 40 Hari di Tanah Suci)
Penulis: Ashartanjung@gmail.com